Ada kesalahan di dalam gadget ini

FALSAFAH HIDUP

Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat -keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan . Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta

Kamis, 30 Juli 2009

Pencegahan Preeklamsi: Faktor-faktor Gizi Kembali Disorot

Oleh: Sophie Alexander

Preeklamsi adalah suatu kondisi yang terjadi pada kehamilan yang membahayakan hidup ibu dan bayinya. Salah satu justifikasi pelayanan antenatal adalah untuk menurunkan risiko preeklamsi. Selama satu abad yang lalu, pelayanan antenatal meliputi berbagai strategi, termasuk pantangan terhadap udara dingin dan pengurangan konsumsi garam, untuk mencegah preeklamsi.1 Pada masa yang lebih belakangan, ada yang menyatakan bahwa preeklamsi tidak dapat dicegah; layanan antenatal harus ditujukan hanya untuk penanganan penyakit jika penyakit tersebut sudah muncul.2 Namun, kemungkinan untuk upaya pencegahan preeklamsi tetap diteruskan, dan kemungkinan ada faktor-faktor penting yang belum diketahui.

Sebuah petunjuk tentang pencegahan preeklamsi melalui faktor gizi telah muncul. Sebuah tim dari Seattle melaporkan hasil sebuah penelitian kasus kontrol tentang hubungan vitamin C dengan preeklamsi.3 Para peneliti menilai adanya paparan terhadap asam askorbat melalui pengukuran level dalam plasma darah dan melalui kuesioner intake makanan. Kedua metode tersebut menunjukkan bahawa perempuan dengan preeklamsi memiliki tingkat konsumsi asam askorbat yang kurang. Perempuan pada kelompok sepuluh persen terbawah kadar asam askorbat plasma empat kali kemungkinannya untuk mengalami preeklamsi. Temuan tentang hubungan khusus vitamin C ini sesuai dengan sebuah penelitian eksperimental randomisasi tentang suplementasi dua macam antioksidan (vitamin C dan E). Pada penelitian tersebut, yang dilakukan terhadap 283 perempuan risiko tinggi, preeklamsi secara nyata turun pada kelompok pemakai antioksidan (adjusted odds ratio [OR] 0,4; 95% confidence interval [CI] _ 0.17– 0.90).4 Selain itu, intervensi tersebut juga berhubungan dengan 21% (95% CI _ 4%–35%) penurunan rasio inhibator aktifator plasminogen 1 ke 2, sebuah penanda preeklamsi.

Dengan dukungan epidemiologis lebih lanjut tentang hubungan ini, pencegahan preeklamsi melalui intervensi diet menjadi suatu yang mungkin. Namun, hasil ini harus diletakkan dalam konteks intervensi-intervensi gizi pada masa lalu, yang pada suatu saat juga terlihat menjajikan. Intervensi-intervensi tersebut banyak macamnya dan meliputi baik penambahan atau pengurangan makanan.
Suplementasi
Pada pencegahan preeklamsi, suplemen yang paling sering diteliti adalah kalsium. Review oleh Cochrane mengidentifikasi 28 penelitian eksperimental, salah satu di antaranya masih berlangsung; 17 di antaranya dianggap tidak informatif, 10 penelitian masih menunggu overview terakhir terhadap 6604 perempuan.5 Hasil tergantung pada intake kalsium dasar. Pada enam penelitian yang dilakukan pada populasi dengan intake kalsium rendah, risiko preeklamsi diturunkan sebesar dua per tiga pada kelompok yang diberi suplementasi (risiko relatif [RR] 0.3; 95% CI 0.21– 0.49]). Tren semakin melemah jika suplementasi diterapkan pada populasi dengan intake kalsium tinggi (RR 0.9; 95% CI 0.71–1.05). Sebuah penelitian menemukan angka hipertensi pada anak-anak yang lebih rendah pada kelompok perlakuan.
Bahan lain yang sering diteliti adalah minyak ikan, yang telah menjadi obyek penelitian sejak Perang Dunia Kedua. Minyak ikan merupakan kandidat yang mungkin untuk upaya pencegahan, karena efek asam lemak n-3 yang telah diketahui dalam penyeimbangan prostacyclin/thromboxane-A2 pada preeklamsi. Pada sebuah penelitian eksperimental pada tahun 1938–1939, 5644 perempuan dirandomisasi, dan penurunan preeklamsi sebesar 31% terjadi pada kelompok perlakuan.6 Sayangnya, penelitian-penelitian eksperimental tentang minyak ikan akhir-akhir ini justru kurang memberi kesimpulan pasti. Dalam enam penelitian eksperimental multicenter, ada sedikit penurunan dalam risiko kelahiran preterm rekuren, tetapi tidak ada penurunan preeklamsi.7 Para penulis menyimpulkan bahwa “walaupun beberapa penelitian tentang pemberian minyak ikan ini memberi hasil yang menjanjikan, sampai hari ini belum terlihat dengan jelas keuntungan-keuntungan klinis yang berharga”.
Faktor nutrisi lain telah banyak dipikirkan namun tidak diteliti secara ekstensif. Sebagai contoh, di Hungaria, para peneliti menemukan hubungan antara preeeklamsi dengan adanya magnesium dalam air minum.8
Pantangan
Pantang garam (awalnya karena adanya edema yang merupakan bagian dari sindrom preeklamsi) selama bertahun-tahun merupakan rekomendasi standar untuk mencegah preeklamsi. Dua buah penelitian eksperimental kecil yang direview Cochrane tentang konsumsi garam tidak berhasil menunjukkan keuntungan atau risiko dari diet rendah garam.9
Jika garam tidak berbahaya, mungkin gula akan menjadi kandidat berikut untuk diperhatikan. Sebuah penelitian kohort menunjukkan nilai risiko untuk preeklamsi (OR 3.6, 95% CI 1.3–9.8) dengan intake tinggi sukrosa.10 Namun, review Cochrane mengenai diet-diet rendah energi (pada perempuan yang tidak mengalami kegemukan atau mengalami penambahan berat badan berlebihan pada awal kehamilan) tidak menunjukkan adanya efek pengurangan penambahan berat badan pada hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan atau preeklamsi.11
Tindakan Lebih Lanjut
Berdasarkan intervensi-intervensi yang mengecewakan tersebut, ada tiga kemungkinan pilihan. Yang pertama adalah menghilangkan ilusi-tidak satupun dari intervensi ini akan berhasil. Yang kedua adalah pandangan pragmatis-mari kita rekomendasikan perempuan yang hamil untuk mengkonsumsi jus jeruk, cocoa (untuk magnesium), kacang almonds dan hazelnuts (untuk vitamin E), salmon asap (untuk asam lemak n-3), dan keju (untuk kalsium), tetapi hindari yang manis-manis dan garam. Pandangan pragmatis ini masih disarankan oleh setidaknya satu rumah sakit pendidikan.12 Pilihan ketiga adalah membuat penelitian eksperimental randomisasi yang besar, melibatkan berbagai center, tentang antioksidan secara ideal, dengan melibatkan sampel perempuan berisiko yang cukup banyak (dengan riwayat preeklamsi dan diet yang buruk). Mungkin waktunya akan tiba untuk penelitian semacam itu. Pada saat para peneliti mempertimbangkan sebuah penelitian nutrisi yang baru, sebuah saran mungkin sudah menunggu. Pada dunia nyata, makanan tetap memberikan kenikmatan yang banyak.13 Sebuah makanan yang baik mungkin lebih menarik dibanding sebuah tablet multivitamin. Jadi mungkin baik juga mengelompokkan sampel penelitian dalam tiga kelompok: suplementasi dengan placebo, tablet dan makanan yang enak?
Diterjemahkan oleh: Siti Nurul Qomariyah
References
1. Loudon I. Some historical aspects of toxaemia of pregnancy. A review. Br J Obstet Gynaecol 1991;98:853–858.
2. Moutquin J-M, Garner PR, Burrows RF, et al. Report of the Canadian Hypertension Society Consensus Conference: 2. Nonpharmacologic management and prevention of hypertensive disorders in pregnancy. CMAJ 1997;157:907–919.
3. Zhang C, Williams MA, King IB, et al. Vitamin C and the risk of preeclampsia–results from dietary questionnaire and plasma assay. Epidemiology 2002;13:409–416.
4. Chappell LC, Seed PT, Briley AL, et al. Effect of antioxidants on the occurrence of pre-eclampsia in women at increased risk: a randomised trial. Lancet 1999;354:810–816.
5. Atallah AN, Hofmeyr GJ, Duley L. Calcium supplementation during pregnancy for preventing hypertensive disorders and related problems (Cochrane Review). Cochrane Database Syst Rev 2000;3:CD001059.
6. Olsen SF, Secher NJ. A possible preventive effect of low-dose fish oil on early delivery and pre-eclampsia: indications from a 50-yearold trail. Br J Nutr 1990;64:599–609.
7. Olsen SF, Secher NJ, Tabor A, Weber T, Walker JJ, Gluud C. Randomised clinical trials of fish oil supplementation in high risk pregnancies. Fish Oil Trials In Pregnancy (FOTIP) Team. Br J Obstet Gynaecol 2000;107:382–395.
8. Melles Z, Kiss SA. Influence of the magnesium content of drinking water and of magnesium therapy on the occurrence of preeclampsia. Magnes Res 1992;5:277–279.
9. Duley L, Henderson-Smart D. Reduced salt intake compared to normal dietary salt, or high intake, in pregnancy (Cochrane Review). Cochrane Database Syst Rev 2000;2:CD001687.
10. Clausen T, Slott M, Solvoll K, Drevon CA, Vollset SE, Henriksen T. High intake of energy, sucrose, and polyunsaturated fatty acids is associated with increased risk of preeclampsia. Am J Obstet Gynecol 2001;185:451–458.
11. Kramer MS. Energy/protein restriction for high weight-for-height or weight gain during pregnancy. Cochrane Database Syst Rev 2000;2:CD000080.
12. Szabo J, Pal A, Szabo-Nagy A. Preventing toxaemia. Lancet 2001; 357:2140.
13. Rozin P, Fischler C, Imada S, Sarubin A, Wrzesniewski A. Attitudes to food and the role of food in life in the U.S.A., Japan, Flemish Belgium and France: possible implications for the diethealth debate. Appetite 1999;33:163–180.
Dari Unit Kesehatan Reproduksi, School of Public Health, Université Libre de Bruxelles, Brussels, Belgium.
Korespondensi: Sophie Alexander, Reproductive Health Unit,
School of Public Health, Université Libre de Bruxelles 808, Route de Lennik,
1070 Brussels, Belgium; salexand@ulb.ac.be
Copyright © 2002 by Lippincott Williams & Wilkins, Inc.
sumber: EPIDEMIOLOGY July 2002, Vol. 13 No. 4 NUTRITION AND PREECLAMPSIA

1 komentar:

PusKel mengatakan...

Infonya boleh di sharing ya dok.
Situsnya sudah dimasukkan dalam Link Dokter pada blog puskelinfo, yang sedang belajar berbagi pengalaman selama bertugas di puskesmas.
Mohon koreksinya. Terimakasih

Ada kesalahan di dalam gadget ini